"Bahasa bukanlah perpanjangan pikiran.....
Bahasa merupakan medium untuk memproyeksikan gagasan abstrak menjadi sebuah kenyataan"

JOHN DEWEY

Sabtu, 10 Oktober 2015

EMBUN DAN PERASAAN


Kenapa embun itu indah,
Karena butir airnya tidak menetes
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun
Kenapa purnama itu elok,
Karena bulan balas menatap di angkasa
Sekali dia bergerak, tidak ada lagu purnama
Aduhai, mengapa sunset itu menakjubkan
Karena matahari menggelayut malas di kaki langit
Sekali dia melaju, hanya tersisa gelap dan debur ombak
Mengapa pagi itu menenteramkan dan dingin
Karena kabut mengambang di sekitar
Sekali dia menguap, tidak ada lagi pagi
Di dunia ini,
Duhai, ada banyak sekali momen-momen terbaik
Meski singkat, sekejap,
Yang jika belum terjadi langkah berikutnya
Maka dia akan selalu spesial
Sama dengan kehidupan kita, perasaan kita,
Menyimpan perasaan itu indah
Karena penuh misteri dan menduga
Sekali dia tersampaikan, tidak ada lagi menyimpan
Menunggu seseorang itu elok
Karena kita terus berdiri setia
Sekali dia datang, tidak ada lagi menunggu
Bersabar itu sungguh menakjubkan
Karena kita terus berharap dan berdoa
Sekali masanya tiba, tiada lain kecuali jawaban dan kepastian
Sungguh tidak akan keliru bagi orang2 yang paham
Wahai, tahukah kita kenapa embun itu indah?
Karena butir airnya tidak menetes,
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun.
Masa singkat yang begitu berharga.
*Tere Liye

My pavorite poem

Selasa, 06 Oktober 2015

DiaLOG dUA jiwa


 Ini hari yang berpeluh, 
akhir pulang bersama senja.

Akan ada malam yang damai, 
tuk jadi buaian ditemani mimpi bertemu pangeran.

Ah, sayang sekali, tidak malam ini.
Tumpukan kertas menggunung, bak kelasih berteman malam, 
menunggu subuh yang menggigil.

Ada jeda di jiiwa,
biarkan mengelana bebas.

Tapi jeda hanya fatamorgana, 
pelengkung senyum yang pura-pura.

Duhai yang senyumnya bak rembulan yang purnama,
jangan takutkan fatamorgana.

Fatamorgana hanya delusi, bukan tempatku bermain mimpi,
karena hidup adalah nyata, maka hadapi

Setidaknya ada indah di sana, 
maka apa salah sejenak tinggal.

Tinggal hanya menyekat waktu,sedang hari sekejap berganti pekan,
tak ada diam di sana. Diam hanya menua sia-sia.

Tergesa mengejar hari juga tak elok, diammu takkan sia-sia,
jika makna kau jelaskan.

Bukan tergesa, hanya berkemas,
sebelum nafas taklagi bersambung.

Ya, berkemas, tetap nikmati fatamorgana.

Ah, fatamorgana, bak rembulan berlembayung gulita,
hanya indah yang menipu.

Sudahlah, kau jiwa yang adalah aku, 
aku adalah bayang jiwamu,
yang hidup pada malam-malam bersinar mentari.

Berdamailah.....



Jumat, 26 Juni 2015

OH INGATAN.......


Merenungi beberapa senja yang telah lewat, ada siluet memerah jingga di sana, juga langit yang digumuli cerita behuruf lontarak.
Debur obak beriuh merendah, memecah menyahut mengiyakan, waktu adalah cermin penampak rupa rupa yang taklagi sama ditiap gulirnya, oh ingatan, aku seperti puisi tanpa irama, tanpa konsonan vokal berpadu yang menjadikanku hanya tumpukan kata, tanpa makna, tanpa kesan, oh ingatan, senja kemarin ada sekulum rindu yang terpintal dan waktu menjadikannya gelungan tali temali penambang lupa , oh ingatan......aku tenggelam bersama senja-senja yang kularungi di tepi trotoar hari ini

Selasa, 26 Mei 2015

CUKUP

Jiwaku, berubah menjadi sungai berbatu
yang menghanyutkan daun-daun hatiku yang menggugur
Bulan tidak lagi silau menyinari taman-taman mimpiku
jauh...menjauh pandangan mataku dari bayanganku
Kau mimpi, kau bayangan hatiku yang bisu
hatiku.....mimpiku......oh jiwaku tersesat berkelana lagi

Mataku, berubah menjadi lautan yang menenggelamkan matahariku
Diam, hembus angin menusuk bulir-bulir senyum 
yang rapat kusimpan di sudut hariku
Oh penguasa nafasku, oh.......pemilik nadiku
tidurkan aku lelap di doa-doaku yang meranggas
berbuah merah deLIMA