"Bahasa bukanlah perpanjangan pikiran.....
Bahasa merupakan medium untuk memproyeksikan gagasan abstrak menjadi sebuah kenyataan"
JOHN DEWEY
Senin, 13 Oktober 2014
GUGURAN HATI
Ini sudah musim gugur, dan seperti tahun-tahun yang telah berlalu, maple diluar sana luruh menggugur satu-satu, gunduk menggunduk berbaur kuning merah berwarna, hari ini malam akan lagi datang secepat aku kehilangan jejak ibu pada hari itu.
Ya, sudah tiga malam sejak ibu pergi dariku dan hanya meninggalkan dua baris kalimat yang ia torehkan di atas selembar kertas berwarna ungu favoritku beserta mantel bulu berwarna coklat favoritnya.
Ibu sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluanku jika musim dingin kembali datang, tapi ada satu hal yang ibu lupa, ia lupa mempersiapkan hatiku lebih dulu, hatiku yang akan ikut membeku saatm gugur berganti dingin, akan selama itukah ibu pergi dan meninggalkanku hanya dengan air mata mengereta yang rapat merapat dipelipisku ? Coba saja aku tahu, aku juga akan menghiasi makamku dengan bunga- bung musim gugur seperti makam ibu yang masih basah, ya....coba saja.
Sabtu, 27 September 2014
KALI INI EMBUN
Embu pagi tadi kulihat lagi jatuh satu-satu
Meresapi tanah berbaur debu
Sedagkan serat-serat lembayung mulai rapat merapat menggumpal bergumul
Akan hujan mungkin
Ah.....mungkin tidak, hanya bertemu rindu lembatung tatap menatap
Ya, biar hujan datang besok saja, biarkan embun tuntaskan tugasnya
Sabtu, 26 Juli 2014
MUSIM BERGANTI
Ketika bulir-bulir embun rapat merapat pada kulit ari pohon-pohon ketapang yang sedang menunggu mati,
mungkin juga langkahmu akan seinci demi seinci merayap jauh menjauh acuh seperti ramadhan yang mulai mengemas langkah untuk berlalu.
Ya, kuhanya menyapa perjalanan waktu,
yang terlalu cepat menghadirkan riak-riak rindu sebelum ransel dipunggungnya belum terisi penuh dengan doa-doaku yang panjang memanjang.
Ini sudah setengah jalan,
bertanda musim akan segera berganti.
Kamis, 05 Juni 2014
AKU DAN KAMI DALAM 25 MENIT
KARENA
KUASANYA
Lirik
mata mereka terus saja mengekori jejakku tiap inci
Nampak
berbeda
Ya,
mungkin saja
Tapi,
taktahukah mereka?
PERTEMUAN INI
Terik sudah seperti satu jengkal di atas kepala
Namun langkah tetap gesit mengayun pasti
La Galigo, itu yang kutuju
Bertemu banyak mata juga wajah berbingkai senyum berbinar
Ada sepasang mata
Dia…..
Tubuh mungil juga lincah, membekal ilmu penuh kesan
Sungguh, pertemuan yang takdisangka
Kami, terkes
Sabtu, 17 Mei 2014
CA'MA PAGI-PAGI
Ini pagi terhidang kue di atas nampan menyapa,
memanggil-manggil melambai-lambai untuk dica'ma.
Kulirik roko'-roko' unti berbaju hijau tua itu,
tapi....putu cangkiri' putih di sebelahnya lebih menggoda inginku.
tapi....putu cangkiri' putih di sebelahnya lebih menggoda inginku.
Ah.....telingaku terlalu sensitif sepertinya,
suara seruput secangkir kopi toraja ingin ia dengar lebih dulu.
suara seruput secangkir kopi toraja ingin ia dengar lebih dulu.
Pawa isi kacangpun tidak mau kalah gaya,
menari-nari berputar-putar merayu menggidik.
menari-nari berputar-putar merayu menggidik.
Ca'ma pagi-pagi di kota daeng,
berteman mentari yang mengintip malu-malu di celah dedaunan pohon merindang itu.
berteman mentari yang mengintip malu-malu di celah dedaunan pohon merindang itu.
Ah....indahnya bertemu pagi.
Senin, 31 Maret 2014
SEBELUM PELANGI BERANJAK PERGI
Ada
bola mata berbinar terang di sudut sana yang mengintipmu diam-diam di sela-sela
jamari tangannya sembari memunajatkan namamu perkata saat malam mulai merayapi
raga-raga yang menagih janji pada langit dan pada saat subuh mulai berselimut
bulir-bulir embun, apa kau tahu? Kurasa tidak.
Dan kuberi tahu padamu, hari ini dia
juga berharap hujan kembali mengetuk-ngetuk riuh atap kamarnya, agar dia
kembali bisa menaruh satu-satu harapannya tentangmu pada tiap warna warni pelangi
yang menyusul bertamu saat hujan mericik yang terakhir.
Maka apa yang bisa kau lakukan setelah
ini kuberi tahu? Hanya diam dan mengatup hati? Atau hanya membilang hari dengan
jemari menguncup? Atau hanya menunggu menahun sampai nisannya bertumbuh
ilalang?
Katakanlah sesuatu sebelum pelangi benar-benar
beranjak pergi…….
J-UNI
Kamis, 27 Maret 2014
MELEPAS PERGI
Malam semakin larut, semua raga kini tengah asyik membingkai mimpi satu-satu. Di luar sana sesekali kokok ayam jantan sterdengar beradu dengan sepoi angin. Lalu bagaimana denganmu, apakah bunga tidur sudah meracuni ragamu, hingga hanya lunglai menggeletak pasrah di bawah langit-langit kamarmu?. Sesekali bertanyalah padaku, apakah malam ini bingkai mimpiku juga akan berhias bunga tidur atau aku hanya diam menatap layar komputer yang berlukiskan fatamorgana. Ah......sayangnya, aku bercerita hanya pada malam kosong lagi hening.
Tapi.....bagaimana tentang kepergianmu, tak adakah sepucuk surat atau sebait puisi yang kau letakkan dalam sebuah kotak pensil untukku?
Sudahlah....ini hanya kiasan gimik tentang hati. Tak perlu kau jawab, tersenyumpun itu sudah lebih dari cukup.
J-UNI.
Langganan:
Postingan (Atom)






