"Bahasa bukanlah perpanjangan pikiran.....
Bahasa merupakan medium untuk memproyeksikan gagasan abstrak menjadi sebuah kenyataan"

JOHN DEWEY

Rabu, 31 Oktober 2012

“BISA APA?” (Sebuah ungkapan)


 Wajah lusuh dengan guratan kemiskinan.
Kaleng susu karatan bertengger di tangan-tangan mungil mereka.
Berontak dengan halus.
“Minta Pak…..”
“Minta Bo…..”
“Kasian Pak…..”
“Kasian Bu…..”
Meneguk harapan semoga iba.
Sayang…..harapan berujung tegukan angin menghempas rongga dada dan mengikis harga diri.
“Di mana ayahmu.” Tanya dedaunan.
“Di mana ibumu?” Teriak sang mentari.
“Di mana sanakmu?” Desak bebatuan.
Di mana petinggi-petinggi moral yang berkoar-koar hari itu sampai berbusa?
“Di mana kalian semua?” Jerit nafasku.
‘Di mana AKU?” Tanya nuraniku.
Hanya bisa terdiam saat senja melenggang berganti malam.
“Aku BISA APA untuk negeriku///”


23 Oktober 2012
J-UNI

‘BUKAN ADIK AYAHKU” (Sebuah FLASH FICTION)


              Tante Rara, begitu aku memanggilnya. Dia adalah seorang wanita yang lembut dan baik hati, dia juga cantik.
            “Put, ikut tante yuk ke mall, temani tante beli sesuatu.” Ajak tante Rara dengan suara lembutnya.
            ‘Mau beli apaan tante?” Tanyaku penasaran.
            ‘Adalah…..nanti kamu juga tahu kok, yuk!” Sekali lagi tante Rara membujukku sambil menarik pergelangan tanganku lembut.
            ‘Yuk!” Sambutku dengan riang.
            Ini bukan kali pertama aku dan tante Rara pergi berdua saja, diantara semua adik ayah, tante Rara memang yang paling akrab denganku, bahkan ibuku sendiri pun tak sesering ini bepergian bersamaku.
            Setengah jam kemudian kami pun tiba di salah satu mall kota Jakarta yang cukup ramai dikunjungi, apa lagi waktu libur seperti ini.
            Rasa penasaran yang sempat mampir dihati dan nalarku kini terbayar sudah. Ternyata tante Rara membeli sebuah jam tangan Rolex yang sangat mewah, semewah harganya.
            “Buat siapa tante?” Tanyaku menelisik.
            ‘Buat seseorang yang spesial.’ Jawab tante Rara dengan wajah yang berseri.

@ @ @
           
            12 Oktober 2012, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibuku yang ke 20 tahun. Begitu banyak uacapan selamat baik dalam bentuk kartu ucapan serangkai dengan buket-buket bunga yang cantik sampai hadiah-hadiah kecil juga besar yang tersusun rapi di atas meja.
            Akupun ikut serta membuka beberapa hadiah. Kuraih bungkusan warna biru mengkilat berbentuk kotak kecil yang berada tepat di hadapanku.
            Kubuka perlahan-lahan kotak kecil itu, tampak isinya sebuah jam tangan mewah yang tak lagi asing di retinaku, kubaca deretan kata pada kartu ucapan kecil yang terselip di kotak itu.
            “Dari istrimu, RARA.”

Di sudut peraduanku, 27 Oktober 2012
(J-UNI, 221 kata

"ANDAI"


Andai tak pernah bertemu kamu.....
Langit hanyalah lembaran biru mengambang di angkasa yang tak pernah aku lukis dengan gerimis.
Dan matahari barangkali tak pernah terbit untuk membuka jendela dan menyematkan cahanya.
Andai tak pernah bertemu kamu.....
Malam hanyalah waktu menunggu pagi.
Aku tidur untuk mendengkur atau begadang untuk membuang waktu.
Dan bulan hanyalah sebuah lampu yang indah ditiup angin terjerat di ranting kelam.
Andai tak pernah bertemu kamu…..
Barangkali hidup hanyalah tumpukan siang dan malam.
Seperti sajak yang dibiarkan tanpa makna.
Angin menghembuskannya ke luar jendela.
Menghamburkannya entah kemana.
Andai aku tak pernah bertemu kamu…..

(lahir dari sepenggal kisah seorang sahabat)
2011
J-UNI